Senin, 24 Oktober 2016

Artikel kehidupan yang nyaman


KENYAMANAN KEHIDUPAN ITU SANGAT PERLU.

Sering  mendengar kalimat “Kehidupan yang nyaman”. Apa yang terbayangkan jika mendengar kalimat tersebut ?. Sebagian kita akan membayangkan kehidupan yang “baik” tanpa adanya masalah yang “ribet” (kalaudi artinya kurang lebih seperti istilah benang kusut). Terbayang “baik”  proses kehidupan ; lahir – ada orang tua yang ada yang muda dan ada anak anak yang  mendampingi hingga  sekolah  bermain  jadi dewasa  bekerja atau usaha  berkeluarga hingga  punya anak, dan seterusnya tanpa mengalami banyak masalah dan tetap setabil. Walaupun ada masalah namun bukanlah masalah besar. Kehidupan normal sering diartikan hidup tanpa masalah berarti. Demikian (menurut penulis) yang ada di pemikiran, kebanyakan orang selalu mengeluhkan dengan keadaannya yang artinya kita kurang mensukuri nikmat yyang di berikan Allah. Bahkan diri saya pun kerap “Ada masalah” dengan paradigma tersebut. Terkadang saya berkata, “Kenapa sih kehidupan ku kok begini lagi banyak masalah yang bikin kepala gua mau pecah, ingin rasanya ngejalanin hidup yang nyaman seperti orang lain”. Dengan berkata seperti itu saya telah menghakimi diri saya sendiri, tanpa saya sadari paradigma seperti itu membawa saya pada proses pelemahan mental dan merendahkan kadar kebijaksanaan yang kurang mandiri.
Menurut pendapat saya saat ini, yang namanya hidup nyaman tidak sama untuk semua orang. Saya mendefinisikan hidup nyaman sebagai kehidupan yang positif. Apapun yang kita alami; senang, susah, tawa, tangis dan berbagai macam perasaan lainnya jika kita mampu meningkatkan kualitas diri, mampu mengambil hikmah dari tiap kejadian yang kita alami maka kita telah menjalani kehidupan yang positif, kita telah hidup yang nyamanl. Dengan definisi tersebut orang yang kehidupannya “nyaman” menurut pandangan orang banyak belum tentu menjalani hidup yang nyaman jika orang tersebut tidak mampu meningkatkan kualitas maupun kebijaksanaan dirinya. Dan orang yang nampak menjalani kehidupan “tidak nyaman” dalam pandangan umum (karena banyak mengalami “perubahan-perubahan iklim” yang ekstrim dalam hidupnya) belum tentu tidak menjalani kehidupan normal jika ia mampu memperbaiki kualitas dan kebijaksanaan dirinya.
Nah jika definisi secara positif kehidupan nyaman tersebut kita sepakati maka mulai sekarang mari bersama-sama berkata, “Hidup kita nyamanl”. Dengan pernyataan tersebut, dengan sikap jiwa yang positif kita menstimuluskan diri kita untuk senantiasa tenang dan siap dalam menghadapi berbagai macam “iklim kehidupan”. Dengan ketenangan dan kesiapan jiwa maka secara psikologis proses pencarian berbagai alternatif penyelesain masalah akan berjalan baik, semoga kita dapat tepat menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada. Jika sudah demikian maka kita akan senantiasa berproses untuk menjadi manusia yang bijaksana dan menjadi  manusia yang loyalitasnya tinggi. Karena menurut saya yang namanya manusia bijaksana itu tidak berbicara sekalipun orang lain sudah tahu. Lagi pula semakin kita bijak, semakin tenang dan “pendiam” dan makin bisa mengkoreksi diri kita sendiri.
Kalau kita perhatikan seperti gambar kehidupan di suatu pedesaan yang nyaman dan asri


KENYAMANAN KEHIDUPAN ITU SANGAT PERLU.

Sering  mendengar kalimat “Kehidupan yang nyaman”. Apa yang terbayangkan jika mendengar kalimat tersebut ?. Sebagian kita akan membayangkan kehidupan yang “baik” tanpa adanya masalah yang “ribet” (kalaudi artinya kurang lebih seperti istilah benang kusut). Terbayang “baik”  proses kehidupan ; lahir – ada orang tua yang ada yang muda dan ada anak anak yang  mendampingi hingga  sekolah  bermain  jadi dewasa  bekerja atau usaha  berkeluarga hingga  punya anak, dan seterusnya tanpa mengalami banyak masalah dan tetap setabil. Walaupun ada masalah namun bukanlah masalah besar. Kehidupan normal sering diartikan hidup tanpa masalah berarti. Demikian (menurut penulis) yang ada di pemikiran, kebanyakan orang selalu mengeluhkan dengan keadaannya yang artinya kita kurang mensukuri nikmat yyang di berikan Allah. Bahkan diri saya pun kerap “Ada masalah” dengan paradigma tersebut. Terkadang saya berkata, “Kenapa sih kehidupan ku kok begini lagi banyak masalah yang bikin kepala gua mau pecah, ingin rasanya ngejalanin hidup yang nyaman seperti orang lain”. Dengan berkata seperti itu saya telah menghakimi diri saya sendiri, tanpa saya sadari paradigma seperti itu membawa saya pada proses pelemahan mental dan merendahkan kadar kebijaksanaan yang kurang mandiri.
Menurut pendapat saya saat ini, yang namanya hidup nyaman tidak sama untuk semua orang. Saya mendefinisikan hidup nyaman sebagai kehidupan yang positif. Apapun yang kita alami; senang, susah, tawa, tangis dan berbagai macam perasaan lainnya jika kita mampu meningkatkan kualitas diri, mampu mengambil hikmah dari tiap kejadian yang kita alami maka kita telah menjalani kehidupan yang positif, kita telah hidup yang nyamanl. Dengan definisi tersebut orang yang kehidupannya “nyaman” menurut pandangan orang banyak belum tentu menjalani hidup yang nyaman jika orang tersebut tidak mampu meningkatkan kualitas maupun kebijaksanaan dirinya. Dan orang yang nampak menjalani kehidupan “tidak nyaman” dalam pandangan umum (karena banyak mengalami “perubahan-perubahan iklim” yang ekstrim dalam hidupnya) belum tentu tidak menjalani kehidupan normal jika ia mampu memperbaiki kualitas dan kebijaksanaan dirinya.
Nah jika definisi secara positif kehidupan nyaman tersebut kita sepakati maka mulai sekarang mari bersama-sama berkata, “Hidup kita nyamanl”. Dengan pernyataan tersebut, dengan sikap jiwa yang positif kita menstimuluskan diri kita untuk senantiasa tenang dan siap dalam menghadapi berbagai macam “iklim kehidupan”. Dengan ketenangan dan kesiapan jiwa maka secara psikologis proses pencarian berbagai alternatif penyelesain masalah akan berjalan baik, semoga kita dapat tepat menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada. Jika sudah demikian maka kita akan senantiasa berproses untuk menjadi manusia yang bijaksana dan menjadi  manusia yang loyalitasnya tinggi. Karena menurut saya yang namanya manusia bijaksana itu tidak berbicara sekalipun orang lain sudah tahu. Lagi pula semakin kita bijak, semakin tenang dan “pendiam” dan makin bisa mengkoreksi diri kita sendiri.
Kalau kita perhatikan seperti gambar kehidupan di suatu pedesaan yang nyaman dan asri




Hasil gambar untuk gambar kehidupan di desa
Indah sang kakek yang mendampingi cucu nya sambil memegang ikatan kerbau  tatkala sang cucu menanyakan bagai mana cerita yang ada dalam dongeng anatara kancil dan buaya. Sikakek pun sambil menjelaskan dengan suara yang terbata bata, dan cucu nya pun serius mendengarkan kisah yang di lontarkan nya kakek sambil tersenyum dan sekali kali kakek menneguk air putih yang di bawanya dari rumah yang untuk menghilangkan rasa dahaga.

Indah sang kakek yang mendampingi cucu nya sambil memegang ikatan kerbau  tatkala sang cucu menanyakan bagai mana cerita yang ada dalam dongeng anatara kancil dan buaya. Sikakek pun sambil menjelaskan dengan suara yang terbata bata, dan cucu nya pun serius mendengarkan kisah yang di lontarkan nya kakek sambil tersenyum dan sekali kali kakek menneguk air putih yang di bawanya dari rumah yang untuk menghilangkan rasa dahaga.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar